Minggu, 28 Juni 2015

I HATE YOU [FF Chapter #2]

I HATE YOU #2

Cast : Song Seunggi (OC) , Song Seungyeon(OC), Kim Jongdae, Park Chanyeol, Kim Na Na(OC)
Genre : School life, romance, family life, little comedy
Author : Nindya Kim SwagJD
Disclameir : ff ini murni lahir dari pemikiran-pemikiran author, diketik sendiri oleh jari-jari manis author. Jadi, sangat disayangkan jika ada yang ingin memplagiatin ff author ini.
Note : sebenarnya Chanyeol dan Chen bkan coupelan pan yak?? Kan ChanBaek, bukan ChanChen. Tapi, berhubung karena Chen mudah akrab dengan member lain jadi yaa gitu dehh *bhakkksss :v*
Warning : typo bertebaran dimana-mana.. hohohohoh *ala godzila (?)*



Happy reading , guys ~ ^^

CHAPTER #2
Jongdae terlihat melangkahkan kakinya dengan cepat, sesekali dia berlari kecil menuju sebuah kedai diseberang jalan. Dia menarik nafas berat lalu menghembuskannya dengan kasar. Peluh menetes didahinya dengan mulus. “hhh....” Jongdae menghembuskan nafasnya sekali lagi sambil melap keringat didahi.
“mian, apa aku terlambat?” tanyanya ketika dia sudah masuk kedalam kedai itu
“yah, kau terlambat tuan Kim” ejek seorang pria tinggi dengan senyum mengejek
“ya!! Tuan Park..” Jongdae mendengus kesal melihat sahabatnya tersenyum seperti itu.
“hahaha.. oh ya, apa kau jadi pindah kesekolahku? Yeoja disana cantik semua. Tapi, ada satu yang jangan kau dekati” pria yang dikenal dengan Chanyeol itu menatap Jongdae memperingati.
“bagaimana kalau saat aku bertemu dengannya disekolahmu dan aku juga jatuh cinta padanya?” Jongdae tersenyum jahil.
“YAKK!! Kalau begitu jangan pindah kesekolahku” Chanyeol mendengus kesal sambil mempoutkan bibirnya terlihat menggemaskan ah, tidak tapi terlihat menjijikkan dimata Jongdae.
“hhh, jangan bertingkah seperti itu tuan Park. Kau terlihat menjijikkan kalau seperti itu..” ejek Jongdae sambil tertawa keras
Plakkkk.. satu jitakan mendarat dikepala Jongdae dengan mulus.
“YAKK!! Kenapa kau menjitakku, bodoh?” tanya Jongdae kesal.
“memangnya tidak boleh? Ingat ya, kalau kau berani jatuh cinta padanya jangan berani kau temui aku lagi, arraseo?!” Chanyeol memperingati.
“ne.. arrayeo, bodoh” Jongdae mengangguk kesal membuat Chanyeol tersenyum puas.
“kembali ke topik awal. Apa kau jadi pindah kesekolahku? Lalu kau akan tinggal dimana?” Chanyeol dan Jongdae terlihat serius sekarang. “tentu saja. Soal aku akan tinggal dimana sudah kupikirkan. Tenang saja” Jongdae tersenyum menenangkan. “memangnya kau akan tinggal dimana? Beritahu aku supaya aku bisa berkunjung dirumahmu” tanya Chanyeol semangat. “aku tinggal di apartemen yang dibeli eomma sebelum aku pindah kesini” jelas Jongdae. “jinjjja?? Neo eomma baik sekali.. bolehkah aku meminjam neo eomma?” tanya Chanyeol tidak pada tempatnya “Yak! Bodoh.. kau gila atau bagaimana sih.. aku bingung dengan  jalan pikiranmu. Bagaimana kalau kita ke psikiater?” ajak Jongdae dengan nada mengejek. “hey! Lihat wajahku yang tampan ini!! Apa aku terlihat seperti orang gila?”  Chanyeol mendekatkan wajahnya membuat Jongdae mundur dengan raut wajah terkejut.
“yakk!! Apa kau mau menciumku? Hiisshh, menjijikkan” Jongdae menatap Chanyeol ilfeal
“cihh.. aku lebih tak sudi jika harus menciummu” ucap Chanyeol lalu kembali duduk.
“sudahlah.. ceritakan padaku, dimana apartemenmu itu?” tanya Chanyeol dengan tatapan serius.
“ayo, kita ke apartemenku dan kau bisa melihatnya secara langsung” Jongdae bangun dari tempatnya lalu melangkah mendahului Chanyeol yang mengekor dibelakang.
>> skip @Jongdae’s apartement
Jongdae menghentikan mobilnya didepan sebuah gedung yang terbilang sangat megah. Chanyeol tampaknya sudah keluar duluan dan menatap gedung itu dengan kagum. Jongdae tersenyum melihat sahabatnya seperti itu.
“hey, tuan Kim. Inikah apartementmu?” tanya Chanyeol, dan diangguki Jongdae.
“wow!! Lalu kenapa kau hanya disini saja? Kau tidak mau mengajakku melihat-lihat? Hhh, sahabat macam apa kau itu..” Chanyeol mendecak kesal membuat Jongdae terkikik. Sungguh, dua sahabat yang sangat kompak.
“memangnya kau tidak mau? Kajja!!” ajak Jongdae mengembalikkan senyum Chanyeol yang kelewat manis itu.
Mereka berdua memang sudah saling kenal sejak kecil, bahkan sejak lahir (?).
Dulunya mereka tinggal sebagai tetangga. Chanyeollah yang pertama kali mengajak Jongdae bermain bersama. Awalnya mereka berdua tidak saling mengenal walaupun kedua orangtuanya adalah sahabat dari kecil juga. Orangtuanya saja sudah bersahabat baik apalagi mereka berdua?
Chanyeol memiliki kepribadian yang unik. Ia adalah anak yang pendiam terhadap lingkungan sekitarnya walaupun sebenarnya dia adalah anak yang sangat periang. Kalau Jongdae dia adalah anak yang sangat pendiam, hampir setiap hari dia akan menghabiskan waktu dikamar dengan mendengarkan musik. Jadi tak heran jika Jongdae memiliki suara yang indah.
Tapi, bagaimana mereka saling mengenal ?
Flashback 9 tahun lalu
Jongdae kecil tampak sedang mendengarkan musik, terlihat dari bibir mungilnya yang sedang komat-kamit mengikuti lirik dan alunan lagu. Tangannya juga tampak bergerak-gerak seperti orang yang sedang menari.
Menit berikutnya Jongdae menghentikan aksinya lalu berjalan keluar kamar. Bosan juga jika sepanjang hari harus dikamar.
“eomma.. aku pergi ke taman dulu, ne.. annyeong” pamit Jongdae lalu berlalu keluar rumah ketika Ny. Kim tersenyum mengiyakan.
Kini Jongdae berumur 7 tahun tapi dia jarang sekali pergi bermain dengan teman-teman yang sebaya. Dia lebih suka menghabiskan waktu dikamar dan berkencan dengan Ipodnya (?).
Mata kecil Jongdae menelusuri setiap inci taman yang terlihat lenggang sekarang. Ia menghembuskan nafasnya kasar lalu duduk disebuah bangku taman yang memang diletakkan disana.
Sendiri.
Lagi-lagi Jongdae merasa kesepian. “hhh, untuk apa hidup jika hanya terdiam? Tak punya teman.. hhhh” Jongdae beragument sendiri tanpa mengetahui bahwa sepasang mata kecil memperhatikannya dengan dahi mengkerut.
Beberapa menit berlalu dan Jongdae tetap pada tempatnya.
“annyeong” sapa seseorang sontak membuat Jongdae berbalik. Ternyata ada seorang anak laki-laki yang tersenyum pada Jongdae.
“annyeong..” Jongdae membalas sapaan itu dengan senyuman hangat.
“kau sedang apa? Dan siapa namamu?” tanya anak itu lagi. Dan sekali lagi Jongdae tersenyum hangat.
“hanya merenung saja. Namaku Kim Jongdae” jawab Jongdae.
“ohh... namaku Park Chanyeol. Oh ya, mau beramain bersama?” ajak anak laki-laki tadi dan disambut anggukkan dan senyuman gembira dari Jongdae.
Flashback End
Jongdae dan Chanyeol memasuki ruang apartement milik Jongdae. Chanyeol tampak sangat antusias karena ada foto mereka berdua yang dipajang dipintu masuk. Chanyeol begitu bahagia melihat foto mereka berdua yang tampak sangat bahagia.
Jongdae tersenyum ikut merasakan kebahagiaan Chanyeol. “kau memang sahabatku yang paling baik tuan Kim” puji Chanyeol.
“tentu saja...” bangga Jongdae.
“oh iya. Mana minumanku? Aku kan tamu” Chanyeol menyodorkan tangannya “ne.. baiklah tuan” ucap Jongdae kemudian berlalu kedapur mengambil minuman untuk sahabatnya.
****
Seunggi melemparkan tasnya lalu menghempaskan tubuhnya dikasur. Dia merasa lelah karena mencari buku yang menurutnya sangat menyebalkan. Matanya mulai terpejam sedikit demi sedikit, tapi tiba-tiba ‘tokkk~tokkk~tokkk’ seseorang mengetuk pintu kamarnya sontak saja dia terbangun karena kaget.
“apa?” tanyanya malas ketika melihat siapa yang ada didepan pintu. “eomma menyuruhku memberikan ini padamu” ucap Seungyeon sambil menyodorkan mantel berwarna biru tua. Seunggi meliriknya sebentar “pasti mirip dengan punyamu kan’?” tanyanya memastikan dan Seungyeon tersenyum lebar lalu mengangguk. “sudah kuduga. Sinikan aku akan menyimpannya” kata Seunggi lalu menutup pintu.
Didalam kamar Seunggi melempar mantel tadi kedalam lemari lalu mengunci pintu agar tak ada yang masuk kekamarnya, kemudian dia melangkah menuju sound speker dan menyalakan lagu Danger milik BTS. Musiknya seperti akan meruntuhkan rumah ini, bahkan mungkin dapat meruntuhkan rumah-rumah tetangga yang jauh lebih kecil dari rumah milik keluarga Song.
>> malam pukul 23:00 KST
Seunggi terbangun dari tidurnya karena tersadar bahwa dia belum mematikan sound speker yang terdengar keras dari tadi sore.
“aku lupa mematikannya..hhh” lirihnya lalu menekan tombol berwarna merah untuk mematikannya. Detik berikutnya Seunggi melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sungguh bodoh, tidak ada orang yang mandi dijam segini.
Setelah selesai mandi Seunggi mengeringkan rambutnya dengan alat pengering rambut lalu duduk didepan meja belajar sambil mengotak atik komputernya.
Sekitar 25 menit dia mengotak atik komputernya sambil membuka buku dan menulis. Apa dia sedang belajar? Hhh, mana ada anak sekolah yang belajar jam segini? Bukankah jam segini semua orang tengah terlelap? Lalu kenapa Seunggi belajar? Tapi mungkin ini rahasianya sehingga bisa memiliki otak yang jenius.
Paginya Seunggi terbangun, sontak dia kaget karena tertidur dimeja belajar. Belum lagi laptop dan lampu belajarnya masih menyala. Ternyata Seunggi sang gadis dengan hati dingin bisa ceroboh juga. Yah, walaupun hanya masalah kecil.
Klikk~ Seunggi mematikan lampu dan laptopnya lalu melangkah menuju kamar mandi.
Seunggi melangkah menuruni tangga menuju meja makan sambil menenteng tasnya. Tidak lupa untuk memakai mantel karena sekarang adalah musim dingin di Seoul. Tapi, dia tidak mengenakan mantel yang kemarin diberikan Seungyeon melainkan mantel berwarna putih yang begitu manis jika dipadukan dengan gaya rambutnya yang memang menawan.
“kenapa kau tidak pakai mantelnya?” tanya eomma ketika Seunggi sudah duduk di kursinya. “lain kali akan ku pakai, eomma” jawabnya dengan senyuman. Yah, Seunggi hanya akan tersenyum pada appa dan eommanya walaupun mereka jarang sekali tersenyum pada Seunggi.
“hhh, yasudah kalau begitu. Sekarang, habiskan sarapanmu lalu berangkat” pintah eomma dan langsung diangguki Seunggi.
Seungyeon tampak tersenyum juga ketika melihat Seunggi tersenyum seperti itu, tapi dia segera menunduk ketika mendapat tatapan dingin nan kosong dari Seunggi.
@gyeonggi suwon international high school
Seperti biasa, Seunggi akan menuruni mobil lebih dulu lalu pergi menuju kelas dengan tatapan dingin. Dan seperti biasa pula, dia akan disambut dengan senyum licik seorang Kim Na Na.
Sebenarnya, siapa musuh Kim Na Na yang sebenarnya? Seunggi atau Seungyeon? Sepertinya dua-dua.
“hai, nona Kim. Bagaimana tidurmu?” sapa Seunggi dengan smirknya.
“sayangnya aku tidak nyenyak karena bertemu denganmu. Tapi, aku bermimpi indah” ucap Nana dengan senyum liciknya. “baguslah” timpal Seunggi cuek lalu duduk ditempatnya.
“mana Seungyeon?”
“dia akan kesini sebenta-.. ahh, itu dia. Sana, kalau kau merindukannya” ucap Seunggi sambil menggerakan tangan kirinya seolah mengusir Nana.
Sedetik kemudian, Nana sudah berdiri didepan Seungyeon dengan tangan yang dilipat didepan dada. Tak lupa juga, tatapan mematikannya.
“apa kau tidur nyenyak?” tanya Nana dengan nada suara yang arrggg. Entahlah.
“nyenyak” jawab Seungyeon dengan senyuman. “syukurlah, tapi hari ini kau tidak akan tidur nyenyak” bisik Nana dengan nada suara dingin tapi mematikan. Seungyeon sempat melirik Seunggi yang menonton mereka malas.
“terserah kau saja” ucap Seungyeon malas tau lalu duduk ditempatnya.
“kau lihat saja nanti” gumam Nana yang masih bisa didengar oleh Seungyeon.
>>skip
Jam pelajaran dimulai tapi tampaknya Han saem belum mau memulainya. Dia berdiri didepan sana dengan seorang pria dengan pipi tirus, kurus tapi menawan.
Chanyeol tampak tersenyum-senyum sambil mengacungkan jempolnya pada sosok pria tadi. Sedangkan Seunggi, dia tampak sedang berpikir. Nampaknya dia kenal dengan pria tadi, ahh tidak tidak! Bukan kenal, tapi pernah bertemu.
‘rasanya aku pernah bertemu dengannya. Senyumnya juga aku kenal. Tapi siapa dan dimana?’ pikir Seunggi.
“namaku Kim Jongdae, panggil saja Jongdae tapi khusus untuk sahabatku Park Chanyeol yang biasa memanggilku dengan sebutan tuan Kim. Bangapta~” ucapnya memperkenalkan diri.
Semenit kemudian Jongdae sudah duduk ditempatnya. Dia duduk tepat dibelakang Seunggi. Yah, Jongdae tahu siapa yang ada didepanya. Tapi tidak dengan Seunggi.
“hai nona, namamu Song Seunggi kan?” tanya Jongdae dari belakang. Seunggi sontak kaget, kenapa dia bisa tahu? Mungkin itu isi pikirannya.
“ne, lalu kenapa?” Seunggi mengatur suaranya agar tetap terdengar dingin. “ternyata kau gadis yang dingin,ya. Pantas saja kau langsung pergi ketika aku menanyakan namamu” Seunggi tampak mengingat sesuatu. Dan... taraa.. dia ingat dimana dia bertemu Jongdae. Yah,  di toko buku yang kemarin dia kunjungi.
“hmmm” hanya itu yang bisa Seunggi ucapkan, bukan ucapan tapi gumaman.
Pelajaran berlangsung baik, dan ini saatnya untuk berdebat tentang pelajaran. “baiklah, seperti biasa. Kita akan berdebat kecil tentang soal didepan” Han saem tersenyum melihat desahan malas dari murid-muridnya.
“apa kau bisa melewatinya?” tanya Jongdae pada Seunggi.
Seunggi berbalik menatapnya dingin, “justru ini yang kutunggu dari tadi” jawab Seunggi dingin. “sok pintar” ejek Jongdae, “lihat saja” Seunggi menunjukkan smirk mematikannya yang terlihat menawan dimata Jongdae.
“seperti biasa juga, kita akan pakai dua master kita. Song Seunggi dan Song Seungyeon” semua bertepuk tangan tapi tidak dengan Jongdae. Pria itu tampak terkejut ketika nama Seunggi diucapkan. Dan apa tadi? Master? “kau lihat kan?” Seunggi lagi-lagi menunjukkan smirknya lalu berdiri.
Kira-kira 30 menit dihabiskan untuk berdebat. Seunggi tampak sangat semangat ketika melihat Seungyeon yang berkeringat. ‘yupp.. aku menang lagi’ soraknya dalam hati ketika Han saem meminta Seungyeon duduk karena jawabanya kurang memuaskan.
Semua bertepuk tangan lagi. Dan kali ini Jongdae ikut bertepuk tangan. “kau sangat luar biasa nona Song” puji Jongdae tak henti-hentinya bertepuk tangan. “jangan berlebihan, itu sudah biasa” Seunggi menyombongkan diri.
Berhubung Han saem sudah keluar dan bell istirahat sudah berbunyi, jadi anak-anak yang lain berhambur keluar. Kecuali, Seunggi. Dia masih tak bergeming untuk bergerak dari kursinya.
“apa kau tidak mau kekantin? Ayo makan bersamaku, akan kutraktir” ajak Jongdae dengan senyuman tulus. “tidak perlu, trimah kasih atas tawaranmu” Seunggi tetap tak bergeming. “ayolah, kumohon. Kali ini saja kau mau ke kantin dan makan bersamaku. Ini hari pertamaku disekolah, aku ingin melakukan kebaikan” Jongdae merajuk tapi Seunggi menatapnya dingin dan kosong.
“kalau ingin lakukan kebaikan jangan hanya padaku, pada yang lain juga. Lagian kau bersahabat dengan Park Chanyeol kan’? kenapa tidak dia saja yang kau ajak?” Ucap Seunggi lalu kembali membaca bukunya.
“tapi dia sudah pergi dengan yeojachingunya. Siapa namanya? Song.. song.. song seungyeon! Yah, Song Seungyeon. Gadis yang tadi berdebat denganmu itu”
“bodoh, itu saudaraku. Dan dia tidak berpacaran dengan Chanyeol”
“jadi, itu saudaramu? Kenapa wajah kalian beda?” Jongdae berpura-pura berpikir, Seunggi memutar bola matanya malas.
“sudahlah, pergi sana” usir Seunggi.
“kau jahat sekali” gumam Jongdae.
“hhh, terserah”
@kantin
Tak disangkah jika Jongdae berhasil mengajak Seunggi. Tapi dengan satu syarat “kau harus mentraktir semua murid dikantin jika kau mau berbuat baik, okey?” ahh, kalimat itu masih terngiang-ngiang dikepala Jongdae. ‘aku akan jatuh miskin pulang dari sini’ batin Jongdae pasrah tapi tidak dengan Seunggi. Gadis itu tetap berdiri disana menatap Jongdae dengan tatapan ‘ayo, apa yang kau tunggu?’ hhh, dengan berat hati Jongdae menarik nafasnya “chingudeul, ayo pesan apa yang ingin kalian makan, hari ini aku sedang saangaaattttt baikk” ucap Jongdae sedikit melebih-lebihkan kalimat ‘sangat’.
‘oh, menyedihkan. Aku akan miskin dan mungkin tidak akan makan untuk 2 hari kedepan’
“jinjja?? Kau baik sekali tuan Kim” Chanyeol tersenyum lebar lalu menarik Seungyeon untuk ikut menikmati kebaikan Jongdae.
Sekarang tinggal Seunggi yang belum memesan apa-apa dan Jongdae tampak mengerutkan keningnya. “kau tidak mau pesan? Aku sudah menuruti permintaanmu, kau ini jahat sekali” Jongdae menggerutu.
“baiklah, aku mau jus jeruk saja. Aku haus” ucap Seunggi sedikit tersenyum tipis. Apa? Tersenyum? Ohh, ini keajaiban. Jongdae, kau membuat keajaiban.
Fakta baru disini tentang Seunggi, akhirnya Seunggi menampilkan senyumnya juga. Dan orang yang pertama melihatnya adalah Jongdae, anak baru dikelasnya yang sok akrab.
“ini nona..” Jongdae menyodorkan minuman pesanan Seunggi lalu duduk disampingnya.
“kenapa kau dingin sekali, Seunggi-ah?”
TBC