I HATE YOU #2
Cast : Song Seunggi (OC) , Song Seungyeon(OC), Kim Jongdae, Park
Chanyeol, Kim Na Na(OC)
Genre : School life, romance, family life, little comedy
Author : Nindya Kim SwagJD
Disclameir : ff ini murni lahir dari pemikiran-pemikiran author,
diketik sendiri oleh jari-jari manis author. Jadi, sangat disayangkan jika ada
yang ingin memplagiatin ff author ini.
Note : sebenarnya Chanyeol dan Chen bkan coupelan pan yak?? Kan
ChanBaek, bukan ChanChen. Tapi, berhubung karena Chen mudah akrab dengan member
lain jadi yaa gitu dehh *bhakkksss :v*
Warning : typo bertebaran dimana-mana.. hohohohoh *ala godzila
(?)*
Happy reading , guys ~ ^^
CHAPTER #2
Jongdae
terlihat melangkahkan kakinya dengan cepat, sesekali dia berlari kecil menuju
sebuah kedai diseberang jalan. Dia menarik nafas berat lalu menghembuskannya
dengan kasar. Peluh menetes didahinya dengan mulus. “hhh....” Jongdae menghembuskan
nafasnya sekali lagi sambil melap keringat didahi.
“mian,
apa aku terlambat?” tanyanya ketika dia sudah masuk kedalam kedai itu
“yah,
kau terlambat tuan Kim” ejek seorang pria tinggi dengan senyum mengejek
“ya!!
Tuan Park..” Jongdae mendengus kesal melihat sahabatnya tersenyum seperti itu.
“hahaha..
oh ya, apa kau jadi pindah kesekolahku? Yeoja disana cantik semua. Tapi, ada
satu yang jangan kau dekati” pria yang dikenal dengan Chanyeol itu menatap
Jongdae memperingati.
“bagaimana
kalau saat aku bertemu dengannya disekolahmu dan aku juga jatuh cinta padanya?”
Jongdae tersenyum jahil.
“YAKK!!
Kalau begitu jangan pindah kesekolahku” Chanyeol mendengus kesal sambil
mempoutkan bibirnya terlihat menggemaskan ah, tidak tapi terlihat menjijikkan
dimata Jongdae.
“hhh,
jangan bertingkah seperti itu tuan Park. Kau terlihat menjijikkan kalau seperti
itu..” ejek Jongdae sambil tertawa keras
Plakkkk..
satu jitakan mendarat dikepala Jongdae dengan mulus.
“YAKK!!
Kenapa kau menjitakku, bodoh?” tanya Jongdae kesal.
“memangnya
tidak boleh? Ingat ya, kalau kau berani jatuh cinta padanya jangan berani kau
temui aku lagi, arraseo?!” Chanyeol memperingati.
“ne..
arrayeo, bodoh” Jongdae mengangguk kesal membuat Chanyeol tersenyum puas.
“kembali
ke topik awal. Apa kau jadi pindah kesekolahku? Lalu kau akan tinggal dimana?”
Chanyeol dan Jongdae terlihat serius sekarang. “tentu saja. Soal aku akan
tinggal dimana sudah kupikirkan. Tenang saja” Jongdae tersenyum menenangkan.
“memangnya kau akan tinggal dimana? Beritahu aku supaya aku bisa berkunjung
dirumahmu” tanya Chanyeol semangat. “aku tinggal di apartemen yang dibeli eomma
sebelum aku pindah kesini” jelas Jongdae. “jinjjja?? Neo eomma baik sekali..
bolehkah aku meminjam neo eomma?” tanya Chanyeol tidak pada tempatnya “Yak!
Bodoh.. kau gila atau bagaimana sih.. aku bingung dengan jalan pikiranmu. Bagaimana kalau kita ke
psikiater?” ajak Jongdae dengan nada mengejek. “hey! Lihat wajahku yang tampan
ini!! Apa aku terlihat seperti orang gila?”
Chanyeol mendekatkan wajahnya membuat Jongdae mundur dengan raut wajah
terkejut.
“yakk!!
Apa kau mau menciumku? Hiisshh, menjijikkan” Jongdae menatap Chanyeol ilfeal
“cihh..
aku lebih tak sudi jika harus menciummu” ucap Chanyeol lalu kembali duduk.
“sudahlah..
ceritakan padaku, dimana apartemenmu itu?” tanya Chanyeol dengan tatapan
serius.
“ayo,
kita ke apartemenku dan kau bisa melihatnya secara langsung” Jongdae bangun
dari tempatnya lalu melangkah mendahului Chanyeol yang mengekor dibelakang.
>> skip @Jongdae’s apartement
Jongdae
menghentikan mobilnya didepan sebuah gedung yang terbilang sangat megah.
Chanyeol tampaknya sudah keluar duluan dan menatap gedung itu dengan kagum.
Jongdae tersenyum melihat sahabatnya seperti itu.
“hey,
tuan Kim. Inikah apartementmu?” tanya Chanyeol, dan diangguki Jongdae.
“wow!!
Lalu kenapa kau hanya disini saja? Kau tidak mau mengajakku melihat-lihat? Hhh,
sahabat macam apa kau itu..” Chanyeol mendecak kesal membuat Jongdae terkikik.
Sungguh, dua sahabat yang sangat kompak.
“memangnya
kau tidak mau? Kajja!!” ajak Jongdae mengembalikkan senyum Chanyeol yang
kelewat manis itu.
Mereka
berdua memang sudah saling kenal sejak kecil, bahkan sejak lahir (?).
Dulunya
mereka tinggal sebagai tetangga. Chanyeollah yang pertama kali mengajak Jongdae
bermain bersama. Awalnya mereka berdua tidak saling mengenal walaupun kedua
orangtuanya adalah sahabat dari kecil juga. Orangtuanya saja sudah bersahabat
baik apalagi mereka berdua?
Chanyeol
memiliki kepribadian yang unik. Ia adalah anak yang pendiam terhadap lingkungan
sekitarnya walaupun sebenarnya dia adalah anak yang sangat periang. Kalau
Jongdae dia adalah anak yang sangat pendiam, hampir setiap hari dia akan
menghabiskan waktu dikamar dengan mendengarkan musik. Jadi tak heran jika
Jongdae memiliki suara yang indah.
Tapi,
bagaimana mereka saling mengenal ?
Flashback 9 tahun lalu
Jongdae
kecil tampak sedang mendengarkan musik, terlihat dari bibir mungilnya yang
sedang komat-kamit mengikuti lirik dan alunan lagu. Tangannya juga tampak
bergerak-gerak seperti orang yang sedang menari.
Menit
berikutnya Jongdae menghentikan aksinya lalu berjalan keluar kamar. Bosan juga
jika sepanjang hari harus dikamar.
“eomma..
aku pergi ke taman dulu, ne.. annyeong” pamit Jongdae lalu berlalu keluar rumah
ketika Ny. Kim tersenyum mengiyakan.
Kini
Jongdae berumur 7 tahun tapi dia jarang sekali pergi bermain dengan teman-teman
yang sebaya. Dia lebih suka menghabiskan waktu dikamar dan berkencan dengan
Ipodnya (?).
Mata
kecil Jongdae menelusuri setiap inci taman yang terlihat lenggang sekarang. Ia
menghembuskan nafasnya kasar lalu duduk disebuah bangku taman yang memang
diletakkan disana.
Sendiri.
Lagi-lagi
Jongdae merasa kesepian. “hhh, untuk apa hidup jika hanya terdiam? Tak punya
teman.. hhhh” Jongdae beragument sendiri tanpa mengetahui bahwa sepasang mata
kecil memperhatikannya dengan dahi mengkerut.
Beberapa
menit berlalu dan Jongdae tetap pada tempatnya.
“annyeong”
sapa seseorang sontak membuat Jongdae berbalik. Ternyata ada seorang anak
laki-laki yang tersenyum pada Jongdae.
“annyeong..”
Jongdae membalas sapaan itu dengan senyuman hangat.
“kau
sedang apa? Dan siapa namamu?” tanya anak itu lagi. Dan sekali lagi Jongdae
tersenyum hangat.
“hanya
merenung saja. Namaku Kim Jongdae” jawab Jongdae.
“ohh...
namaku Park Chanyeol. Oh ya, mau beramain bersama?” ajak anak laki-laki tadi
dan disambut anggukkan dan senyuman gembira dari Jongdae.
Flashback End
Jongdae
dan Chanyeol memasuki ruang apartement milik Jongdae. Chanyeol tampak sangat
antusias karena ada foto mereka berdua yang dipajang dipintu masuk. Chanyeol
begitu bahagia melihat foto mereka berdua yang tampak sangat bahagia.
Jongdae
tersenyum ikut merasakan kebahagiaan Chanyeol. “kau memang sahabatku yang
paling baik tuan Kim” puji Chanyeol.
“tentu
saja...” bangga Jongdae.
“oh
iya. Mana minumanku? Aku kan tamu” Chanyeol menyodorkan tangannya “ne.. baiklah
tuan” ucap Jongdae kemudian berlalu kedapur mengambil minuman untuk sahabatnya.
****
Seunggi
melemparkan tasnya lalu menghempaskan tubuhnya dikasur. Dia merasa lelah karena
mencari buku yang menurutnya sangat menyebalkan. Matanya mulai terpejam sedikit
demi sedikit, tapi tiba-tiba ‘tokkk~tokkk~tokkk’ seseorang mengetuk pintu
kamarnya sontak saja dia terbangun karena kaget.
“apa?”
tanyanya malas ketika melihat siapa yang ada didepan pintu. “eomma menyuruhku
memberikan ini padamu” ucap Seungyeon sambil menyodorkan mantel berwarna biru
tua. Seunggi meliriknya sebentar “pasti mirip dengan punyamu kan’?” tanyanya
memastikan dan Seungyeon tersenyum lebar lalu mengangguk. “sudah kuduga.
Sinikan aku akan menyimpannya” kata Seunggi lalu menutup pintu.
Didalam
kamar Seunggi melempar mantel tadi kedalam lemari lalu mengunci pintu agar tak
ada yang masuk kekamarnya, kemudian dia melangkah menuju sound speker dan
menyalakan lagu Danger milik BTS. Musiknya seperti akan meruntuhkan rumah ini,
bahkan mungkin dapat meruntuhkan rumah-rumah tetangga yang jauh lebih kecil
dari rumah milik keluarga Song.
>> malam pukul 23:00 KST
Seunggi
terbangun dari tidurnya karena tersadar bahwa dia belum mematikan sound speker yang
terdengar keras dari tadi sore.
“aku
lupa mematikannya..hhh” lirihnya lalu menekan tombol berwarna merah untuk
mematikannya. Detik berikutnya Seunggi melangkahkan kakinya menuju kamar mandi
untuk membersihkan diri. Sungguh bodoh, tidak ada orang yang mandi dijam
segini.
Setelah
selesai mandi Seunggi mengeringkan rambutnya dengan alat pengering rambut lalu
duduk didepan meja belajar sambil mengotak atik komputernya.
Sekitar
25 menit dia mengotak atik komputernya sambil membuka buku dan menulis. Apa dia
sedang belajar? Hhh, mana ada anak sekolah yang belajar jam segini? Bukankah
jam segini semua orang tengah terlelap? Lalu kenapa Seunggi belajar? Tapi
mungkin ini rahasianya sehingga bisa memiliki otak yang jenius.
Paginya
Seunggi terbangun, sontak dia kaget karena tertidur dimeja belajar. Belum lagi
laptop dan lampu belajarnya masih menyala. Ternyata Seunggi sang gadis dengan
hati dingin bisa ceroboh juga. Yah, walaupun hanya masalah kecil.
Klikk~
Seunggi mematikan lampu dan laptopnya lalu melangkah menuju kamar mandi.
Seunggi
melangkah menuruni tangga menuju meja makan sambil menenteng tasnya. Tidak lupa
untuk memakai mantel karena sekarang adalah musim dingin di Seoul. Tapi, dia
tidak mengenakan mantel yang kemarin diberikan Seungyeon melainkan mantel berwarna
putih yang begitu manis jika dipadukan dengan gaya rambutnya yang memang
menawan.
“kenapa
kau tidak pakai mantelnya?” tanya eomma ketika Seunggi sudah duduk di kursinya.
“lain kali akan ku pakai, eomma” jawabnya dengan senyuman. Yah, Seunggi hanya
akan tersenyum pada appa dan eommanya walaupun mereka jarang sekali tersenyum
pada Seunggi.
“hhh,
yasudah kalau begitu. Sekarang, habiskan sarapanmu lalu berangkat” pintah eomma
dan langsung diangguki Seunggi.
Seungyeon
tampak tersenyum juga ketika melihat Seunggi tersenyum seperti itu, tapi dia
segera menunduk ketika mendapat tatapan dingin nan kosong dari Seunggi.
@gyeonggi suwon international high
school
Seperti
biasa, Seunggi akan menuruni mobil lebih dulu lalu pergi menuju kelas dengan
tatapan dingin. Dan seperti biasa pula, dia akan disambut dengan senyum licik
seorang Kim Na Na.
Sebenarnya,
siapa musuh Kim Na Na yang sebenarnya? Seunggi atau Seungyeon? Sepertinya
dua-dua.
“hai,
nona Kim. Bagaimana tidurmu?” sapa Seunggi dengan smirknya.
“sayangnya
aku tidak nyenyak karena bertemu denganmu. Tapi, aku bermimpi indah” ucap Nana
dengan senyum liciknya. “baguslah” timpal Seunggi cuek lalu duduk ditempatnya.
“mana
Seungyeon?”
“dia
akan kesini sebenta-.. ahh, itu dia. Sana, kalau kau merindukannya” ucap Seunggi
sambil menggerakan tangan kirinya seolah mengusir Nana.
Sedetik
kemudian, Nana sudah berdiri didepan Seungyeon dengan tangan yang dilipat
didepan dada. Tak lupa juga, tatapan mematikannya.
“apa
kau tidur nyenyak?” tanya Nana dengan nada suara yang arrggg. Entahlah.
“nyenyak”
jawab Seungyeon dengan senyuman. “syukurlah, tapi hari ini kau tidak akan tidur
nyenyak” bisik Nana dengan nada suara dingin tapi mematikan. Seungyeon sempat
melirik Seunggi yang menonton mereka malas.
“terserah
kau saja” ucap Seungyeon malas tau lalu duduk ditempatnya.
“kau
lihat saja nanti” gumam Nana yang masih bisa didengar oleh Seungyeon.
>>skip
Jam
pelajaran dimulai tapi tampaknya Han saem belum mau memulainya. Dia berdiri
didepan sana dengan seorang pria dengan pipi tirus, kurus tapi menawan.
Chanyeol
tampak tersenyum-senyum sambil mengacungkan jempolnya pada sosok pria tadi.
Sedangkan Seunggi, dia tampak sedang berpikir. Nampaknya dia kenal dengan pria
tadi, ahh tidak tidak! Bukan kenal, tapi pernah bertemu.
‘rasanya
aku pernah bertemu dengannya. Senyumnya juga aku kenal. Tapi siapa dan dimana?’
pikir Seunggi.
“namaku
Kim Jongdae, panggil saja Jongdae tapi khusus untuk sahabatku Park Chanyeol
yang biasa memanggilku dengan sebutan tuan Kim. Bangapta~” ucapnya
memperkenalkan diri.
Semenit
kemudian Jongdae sudah duduk ditempatnya. Dia duduk tepat dibelakang Seunggi.
Yah, Jongdae tahu siapa yang ada didepanya. Tapi tidak dengan Seunggi.
“hai
nona, namamu Song Seunggi kan?” tanya Jongdae dari belakang. Seunggi sontak
kaget, kenapa dia bisa tahu? Mungkin itu isi pikirannya.
“ne,
lalu kenapa?” Seunggi mengatur suaranya agar tetap terdengar dingin. “ternyata
kau gadis yang dingin,ya. Pantas saja kau langsung pergi ketika aku menanyakan
namamu” Seunggi tampak mengingat sesuatu. Dan... taraa.. dia ingat dimana dia
bertemu Jongdae. Yah, di toko buku yang
kemarin dia kunjungi.
“hmmm”
hanya itu yang bisa Seunggi ucapkan, bukan ucapan tapi gumaman.
Pelajaran
berlangsung baik, dan ini saatnya untuk berdebat tentang pelajaran. “baiklah,
seperti biasa. Kita akan berdebat kecil tentang soal didepan” Han saem
tersenyum melihat desahan malas dari murid-muridnya.
“apa
kau bisa melewatinya?” tanya Jongdae pada Seunggi.
Seunggi
berbalik menatapnya dingin, “justru ini yang kutunggu dari tadi” jawab Seunggi
dingin. “sok pintar” ejek Jongdae, “lihat saja” Seunggi menunjukkan smirk
mematikannya yang terlihat menawan dimata Jongdae.
“seperti
biasa juga, kita akan pakai dua master kita. Song Seunggi dan Song Seungyeon”
semua bertepuk tangan tapi tidak dengan Jongdae. Pria itu tampak terkejut
ketika nama Seunggi diucapkan. Dan apa tadi? Master? “kau lihat kan?” Seunggi
lagi-lagi menunjukkan smirknya lalu berdiri.
Kira-kira
30 menit dihabiskan untuk berdebat. Seunggi tampak sangat semangat ketika
melihat Seungyeon yang berkeringat. ‘yupp.. aku menang lagi’ soraknya dalam
hati ketika Han saem meminta Seungyeon duduk karena jawabanya kurang memuaskan.
Semua
bertepuk tangan lagi. Dan kali ini Jongdae ikut bertepuk tangan. “kau sangat
luar biasa nona Song” puji Jongdae tak henti-hentinya bertepuk tangan. “jangan
berlebihan, itu sudah biasa” Seunggi menyombongkan diri.
Berhubung
Han saem sudah keluar dan bell istirahat sudah berbunyi, jadi anak-anak yang
lain berhambur keluar. Kecuali, Seunggi. Dia masih tak bergeming untuk bergerak
dari kursinya.
“apa
kau tidak mau kekantin? Ayo makan bersamaku, akan kutraktir” ajak Jongdae
dengan senyuman tulus. “tidak perlu, trimah kasih atas tawaranmu” Seunggi tetap
tak bergeming. “ayolah, kumohon. Kali ini saja kau mau ke kantin dan makan
bersamaku. Ini hari pertamaku disekolah, aku ingin melakukan kebaikan” Jongdae
merajuk tapi Seunggi menatapnya dingin dan kosong.
“kalau
ingin lakukan kebaikan jangan hanya padaku, pada yang lain juga. Lagian kau
bersahabat dengan Park Chanyeol kan’? kenapa tidak dia saja yang kau ajak?”
Ucap Seunggi lalu kembali membaca bukunya.
“tapi
dia sudah pergi dengan yeojachingunya. Siapa namanya? Song.. song.. song
seungyeon! Yah, Song Seungyeon. Gadis yang tadi berdebat denganmu itu”
“bodoh,
itu saudaraku. Dan dia tidak berpacaran dengan Chanyeol”
“jadi,
itu saudaramu? Kenapa wajah kalian beda?” Jongdae berpura-pura berpikir,
Seunggi memutar bola matanya malas.
“sudahlah,
pergi sana” usir Seunggi.
“kau
jahat sekali” gumam Jongdae.
“hhh,
terserah”
@kantin
Tak
disangkah jika Jongdae berhasil mengajak Seunggi. Tapi dengan satu syarat “kau
harus mentraktir semua murid dikantin jika kau mau berbuat baik, okey?” ahh,
kalimat itu masih terngiang-ngiang dikepala Jongdae. ‘aku akan jatuh miskin
pulang dari sini’ batin Jongdae pasrah tapi tidak dengan Seunggi. Gadis itu
tetap berdiri disana menatap Jongdae dengan tatapan ‘ayo, apa yang kau tunggu?’
hhh, dengan berat hati Jongdae menarik nafasnya “chingudeul, ayo pesan apa yang
ingin kalian makan, hari ini aku sedang saangaaattttt baikk” ucap Jongdae
sedikit melebih-lebihkan kalimat ‘sangat’.
‘oh,
menyedihkan. Aku akan miskin dan mungkin tidak akan makan untuk 2 hari kedepan’
“jinjja??
Kau baik sekali tuan Kim” Chanyeol tersenyum lebar lalu menarik Seungyeon untuk
ikut menikmati kebaikan Jongdae.
Sekarang
tinggal Seunggi yang belum memesan apa-apa dan Jongdae tampak mengerutkan
keningnya. “kau tidak mau pesan? Aku sudah menuruti permintaanmu, kau ini jahat
sekali” Jongdae menggerutu.
“baiklah,
aku mau jus jeruk saja. Aku haus” ucap Seunggi sedikit tersenyum tipis. Apa?
Tersenyum? Ohh, ini keajaiban. Jongdae, kau membuat keajaiban.
Fakta
baru disini tentang Seunggi, akhirnya Seunggi menampilkan senyumnya juga. Dan
orang yang pertama melihatnya adalah Jongdae, anak baru dikelasnya yang sok
akrab.
“ini
nona..” Jongdae menyodorkan minuman pesanan Seunggi lalu duduk disampingnya.
“kenapa
kau dingin sekali, Seunggi-ah?”
TBC


