Cast : Lee Donghae & Jessica Jung
Genre : Romance
yoyoyo.. gw kembali lagi. kali ini gw mau posting ff sedih,
jujur ya, gw nulis nih ff smbl nangis *gak nanya mbak*
ok lah kalau bgitu. langsung ajha ... cekidottt... (y)
Apa yang kulakukan sekarang tak
dapat digambarkan lagi, hatiku serasa menangis karena kepergiannya. Seandainya
aku bisa memutar kembali waktu, aku akan kembali pada saat dimana ia pergi
meninggalkannku. Mungkin kalian menganggap aku gila, ya aku memang gila. Sudah
3 tahun aku merasa kehilangan jati diriku sendiri. Wanita yang selalu ada
disisiku, selalu mendampingiku kini hilang entah kemana. Dia adalah separuh
jiwaku. Jessica Jung, seorang wanita terbaik yang pernah kutemui. Hanya dia
yang dapat mengerti semua yang aku mau.
>flashback.. 3 tahun lalu<
Pagi
yang biasa, kegiatan yang biasa. Walau kukatakan biasa tapi ada satu yang tidak
biasa. “morning chagi” ucapku sambil mengecup pipi wanita itu yang sedang
memasak didapur. Dia hanya tersenyum, sebuah senyum sinis yang kusukai. Wanita
itu adalah istriku, seorang istri terbaik yang pernah kupunya. Aku sering
membawanya ke tempat acara, semua teman-temanku selalu bilang bahwa aku sangat
beruntung memilikinya. Jessica Jung, wanita yang paling sempurna dalam hidupku.
“apa kau tidak sarapan lagi???” tanyanya ketika melihatku sedang mengemasi
barang ke dalam tas kantorku, “tentu saja tidak, aku akan sarapan dulu. Kau tau
kan? Aku menyukai masakkanmu, sejak kapan aku tidak mau makan jika kau yang
masak???” ucapku sambil tersenyum. Ia kembali ke dapur dan aku kembali
menggemasi barangku.
Kini aku
duduk di depan meja makan sambil memandanginya yang sedang menyajikan sarapan
untuku. Istri terbaik, pikirku. “silakan makan tuan” ucapnya seperti seorang
pelayan, tapi aku menahan pergelangan tangannya “kau tidak sarapan??” tanyaku
heran, karena ini pertama kalinya dia tidak mau makan bersamaku. “masih ada yang
harus kulakukan, makanlah dan cepat berangkat nanti kau terlambat.” Katanya dan
berlalu pergi. Tiba-tiba aku menjadi khawatir, entah kenapa hatiku merasa nanti
akan ada sesuatu yang terjadi. Khayalanku yang aneh menghantuiku selama
sarapan, aku merasa khawatir sehinnga tak bisa konsen bekerja, “Donghae
konsenlah, masih banyak yang harus kau kerjakan” pekik bosku yang melihatku
melamun. “ahh.. ne.” Ucapku singkat dan kembali memfokuskan mata ke pekerjaan.
Beberapa waktu berlalu, aku tetap memikirkan Jessica, aku berlari cepat agar
bisa kembali ke rumah. Kantorku hanya berjarak beberapa langkah saja dari
apartementku jadi aku hanya perlu berlari.
Sesampainya
di apartement aku melihat Jessica yang duduk menghadap tv dan menonton drama
kesukaannya, sekarang aku merasa lebih tenang untuk mengatur nafas. “kau sudah
pulang? Kenapa kau seperti ini oppa??” tanyanya menatap wajahku, saat itu
hatiku kembali khawatir. Aku melihat wajahnya yang pucat. “apa kau sakit? Ayo
ke dokter!” kataku sambil menarik tangannya, tapi di melepas genggamannku “aku
baik-baik saja, seharusnya kau yang ke dokter.” Ucapnya balik menyuruhku. Aku
terdiam dan memaksakan seulas senyum walaupun aku merasa sangat khawatir.
2 minggu
berlalu. Tapi, aku masih merasa khawatir, akhir-akhir ini Jessica tak mau makan
bersamaku lagi, aku selalu menanyakan hal ini, tapi dia hanya menjawab “aku
baik-baik saja”. Kalimat itu yang selalu di ucapkannya ketika aku bertanya
tentang keadaannya. Aku juga sering melihatnya ke dokter sendiri ketika aku
sedang ke kantor atau sering membeli tissue yang berpack-pack, tapi tak pernah
memberitahu aku untuk apa itu semua. Aku juga hanya bisa memperhatikannya yang
terlihat aneh.
Pagi
ini, hal yang sama juga. Jessica tak mau sarapan bersamaku “Sicca, sarapanlah
bersamaku. Sudah lama kau tak sarapan bersamaku..” ucapku dengan ancaman tidak
mau makan kalau dia juga tak mau makan. Tapi sama saja, ia dengan cepat
menyuapiku agar tak berhenti makan. “makan saja...” ucapnya dan berlalu. Menit
berikutnya, tiba-tiba aku mendengar gelas yang jatuh. Seketika itu aku langsung
berlari menuju dapur dan mendapati Jessica yang pingsan. Aku menangis ketika
melihat darah yang mengalir dari hidungnya. “bertahanlah, jangan pergi dulu!”
bisikku sambil membopongnya menuju rumah sakit. Kali ini aku merasa tak bisa
berdiri lagi, aku sangat khawatir dengan keadaanya.
“bagaimana
keadaannya, Dok?” tanyaku dengan raut wajah yang kusut dan khawatir. “maaf”
ucap dokter itu, menambah kekhawatiranku. “maksudnya apa dok?” tanyaku sambil
mengguncang-guncang tubuhnya. “istri anda tidak dapat kami selamatkan. Maafkan
kami!” kata dokter itu dan berlalu, aku terjatuh dalam tangis. Aku tak sanggup
menerima kenyataan ini. “Sicca, bangunlah. Jangan pergi” teriakku pada telinga
Sicca yang tak sadar lagi. “Sicca, kumohon. Bangunlah..!!” ucapku lagi
“Siccaaaaa!!!!” teriakku mengisi seluruh ruangan ini.
Kini aku
berdiri sendiri di depan makamnya. Rasanya aku ingin mati juga, aku ingin ikut
Sicca. Kini aku sendiri menjalani hari-hariku.. hanya tangis dan kepedihan yang
mewarnai hidupku.
>flashback end<
Aku berdiri didepan makamnya,
yang 3 tahun lalu aku baringkan. Jessica telah pergi untuk selamanya, jika
waktu itu aku tau bahwa dia mengidap Kanker Darah. Mungkin ini tidak akan
pernah terjadi.
Aku mulai menerima kenyataan bahwa
Sicca telah pergi. Tapi, aku berajnji, “Sicca, walau kau telah tiada. Tapi, kau
tak akan digantikan.” Kataku sambil menghapus air mata dan pergi.
END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar